Pasang Iklan Di Sini

Pasangan Zam-Zam Menangi Pilbup Magelang

Pasangan calon bupati dan calon wakil bupati Magelang Zaenal Arifin dan M. Zaenal Arifin atau Zamzam yang diusung PDI Perjuangan memenangi Pilkada Kabupaten Magelang 2013. Berdasarkan rapat pleno terbuka rekapitulasi hasil penghitungan suara pasangan calon bupati dan wakil bupati yang diselenggarakan KPU Kabupaten Magelang, Sabtu (2/11/2013), pasangan nomor urut 4 tersebut meraih 206.057 suara atau 33,90% dari total suara sah.

Showing posts with label berita. Show all posts
Showing posts with label berita. Show all posts

Sunday, 17 November 2013

Pelari Ethiopia borong gelar lari Borobudur 10K

Magelang, Jawa Tengah (ANTARA News) - Pelari putra dan putri Ethiopia, Azmirow Bekele Moialign dan Gezashign Hunduma Gameda, memborong gelar terhormat lomba lari Borobudur International 10 K untuk kelompok elit internasional.

Moialign berlari stabil dengan catatan waktu 28 menit 37 detik sedangkan Gameda 33 menit 56 detik. 
Moialign menuturkan, "Ini bukan waktu terbaik saya. Catatan waktu terbaik saya lari 10 kilometer adalah 27 menit 45 detik di Paris."
Gameda mengatakan, setiap hari berlatih lari sepanjang 20 kilometer. Dia meraih catatan waktu terbaik 10 kilometer adalah 33 menit 45 detik.
Adalah Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, yang mengibarkan bendera start lomba lari itu di depan Kantor Bupati Magelang, Jawa Tengah, Minggu.
Juara II kelompok elit internasional putra diraih Josphat Kiptanul Chobei (Ethiopia/28'52), juara III Ngare Joseph Mwangi (Kenya/28'57), sedangkan juara II kelompok elit internasional putri ditempati Viola Jelagat (Kenya/34'07, dan juara III Gladys Chemweno (Kenya/34'19).
Kemudian juara I kelompok nasional putra diraih Herlanto Raego dari Kodam VII/Wirabuana dengan catatan waktu 32'19, juara II Atjong Tio Purwanto dari Yonif 523 Macan Kumbang (32'28), dan juara III Hamdan Safril S, dari Padang Paryiaman (32'59).
Juara I kelompok nasional putri Feri Marince Subnaefu dari Kaltim (37'25) juara II Yulianingsih dari Jatim (37'40), juara III Alfriana Paijo dari NTT (37'59)
Kelompok pelajar putra juara I Aset Saifudin (Bandung/33'32), juara II Reza Aulia Pradipta (Bandung/33'43), juara III Beni Santoso (Salatiga/33'58), untuk kelompok pelajar putri juara I Yuliyanti Utari (Sumatera Barat/38'54), juara II Cika Mega P (Cepu/38'59), dan juara III Ambar Winarsih (Salatiga/39'32).

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2013
Sumber Antara News

Monday, 4 November 2013

Zamzam Ditetapkan sebagai Bupati dan Wakil Bupati Magelang

MUNGKID (KRjogja.com) – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Magelang, menetapkan pasangan calon (paslon) Bupati dan Wakil Bupati yang diusung PDI Perjuangan, Zaenal Arifin SIP dan HM Zaenal Arifin SH (Zamzam), sebagai Bupati dan Wakil Bupati terpilih dalam Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Magelang tahun 2013. Penetapan dilakukan
dalam rapat pleno terbuka di Aula Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Minggu (3/11/2013). Namun disayangkan, dalam penetapan tersebut tanpa dihadiri lima dari enam paslon lainnya. 

“Meski tanpa dihadiri paslon lain, namun tidak akan mempengaruhi keputusan kami (KPU). Ini sudah keputusan final. Jika pun ada paslon atau pihak lain yang keberatan dengan keputusan kami ini, silakan saja. Mereka dapat mengajukannya keberatan itu ke Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) di Mahkamah Konstitusi (MK),” kata Ketua KPU
Kabupaten Magelang, Makmun Ramatullah ditemui wartawan usai rapat.

Terkait hal itu, pihaknya sudah menyiapkan data dan dokumen-dokumen jika ada pihak yang akan mengajukan pihaknya ke MK. “Tidak ada masalah. Kami sudah siapkan semua. Dan kami yakin dengan data dan dokumen yang kami miliki. Yang jelas, pihak yang keberatan dan akan mengajukan ke MK itu, ditunggu paling lambat tiga hari sejak tanggal dan hari keputusan penetapan pasangan bupati dan wakil bupati Magelang ini ditetapkan,” terangnya.

Dalam rapat terbuka tadi, pasangan Zamzam memperoleh 206.057 suara atau 33,9 %. Pasangan ini mengalahkan pasangan Rohadi Pratoto-M Ahadi (Rohmad) yang diusung PKB, Golkar dan PKS. Paslon Rohmad memperoleh suara 194.076 suara atau 31,92 %. Sedang pasangan yang diusung PPP dan PAN, Susilo-Mujadin Putu Murja, mendapat 92.171 suara atau 15,16 %. Diurutan ke empat, ditempati paslon yang diusung Gerindra dan PKNU, yakni Drs HM Arwan-H Haiban Hajid Ssos yang mendapat 53.597 suara atau 8,82 %. Diurutan kelima, diraih paslon yang diusung Demokrat, PPRN, Hanura dan PBB, Ahmad Majidun-Sad Priyo Putro yang mendapat 38.713 suara atau 6,37 %. Terakhir paslon yang maju melalui jalur perseorangan, yakni Handoko-Eko Purnomo yang hanya mendapat 23,309 suara atau 3,83 %. (Bag)

Sunday, 3 November 2013

Pasangan Zamzam Menangi Pilbup Magelang

Pasangan calon bupati dan calon wakil bupati Magelang Zaenal Arifin dan M. Zaenal Arifin atau Zamzam yang diusung PDI Perjuangan memenangi Pilkada Kabupaten Magelang 2013. Berdasarkan rapat pleno terbuka rekapitulasi hasil penghitungan suara pasangan calon bupati dan wakil bupati yang diselenggarakan KPU Kabupaten Magelang, Sabtu (2/11/2013), pasangan nomor urut 4 tersebut meraih 206.057 suara atau 33,90% dari total suara sah.
Pasangan nomor urut 2 Rohadi Pratoto-Muhamad Achadi (Rohmad) yang diusung koalisi PKB, Partai Golkar, dan PKS menduduki urutan kedua dengan meraih 192.176 suara atau 31,92%. Urutan ketiga diduduki pasangan nomor 1 Susilo-Mujadin yang diusung PAN dan PPP dengan mendapat 92.171 suara atau 15,16%.
Posisi keempat ditempati pasangan nomor urut 6 Arwan-Haiban Hajid yang diusung koalisi PKNU dan Partai Gerindra, dengan meraih 53.597 suara atau 8,82 persen. Pada urutan kelima diraih pasangan nomor urut 5 Ahmad Majidun-Sad Priyo Putro yang diusung Partai Demokrat, PPRN, Partai Hanura, dan PBB dengan meraih 38.713 suara atau 6,37%. Selanjutnya, pasangan independen nomor urut 3 Handoko-Eko Purnomo menduduki urutan keenam dengan meraih 23.309 suara atau 3,83%.
Pasangan Zamzam unggul di tujuh kecamatan, yakni Srumbung, Muntilan, Candimulyo, Pakis, Ngablak, Grabag, Tegalrejo. Sedangkan pasangan Raohmad unggul di 13 kecamatan, yakni Borobudur, Ngluwar, Salam, Dukun, Sawangan, Mungkid, Mertoyudan, Tempuran, Kajoran, Kaliangkrik, Bandongan, Secang, dan Windusari. Kemudian pasangan Susilo-Mujadin hanya unggul di Kecamatan Salaman. Meskipun pasangan Rohmad unggul di 13 kecamatan, perolehan suara mereka selalu berbeda tipis dengan pasangan Zamzam, sedangkan pasangan Zamzam cenderung menang mutlak di hampir kecamatan yang unggul suaranya.
Ketua KPU Kabupaten Magelang, Ma’mun Rakhmatullah, mengatakan, dengan penghitungan suara maka rekapitulasi sudah selesai sesuai dengan tahapan. “Besok tinggal penetapan dari hasil penghitungan kali ini. Sesuai dengan SK tahapan memang ada tahapan rekapitulasi dan juga ada tahapan untuk penetapan,” katanya.
Sumber : Solopos

Saturday, 17 August 2013

Paskibraka Kota Magelang Dikukuhkan


Walikota Magelang Ir Sigit Widyonindito MT mengukuhkan 39 anggota pasukan pengibar bendera Pusaka (Paskibraka) di Kota Magelang, Kamis (15/8/2013) sore di Pendopo Pengabdian. 


Mereka merupakan hasiil seleksi 120 orang dari sejumlah sekolah setingkat SMA yang ada di Kota Magelang.  “Setelah dikukuhkan, mereka akan menjadi pasukan pengibar bendera di Upacara HUT RI ke-68 di Lapangan Rindam IV Diponegoro Magelang, tanggal 17 Agustus mendatang,” kata Kabag Humas Setda Kota Magelang Sutomo Hariyanto SH. 


Setelah pengukuhan ini, mereka menjalani masa karantina selama empat hari mulai 15-18 Agustus di Mess Diklat RSJ Dr Soerojo Magelang, dan tidak boleh pulang ke rumah mereka. Proses memilih personel Paskibra sangat ketat, mulai dari seleksi fisik, kesehatan, pengetahuan umum, psikologi dan Bahasa Inggris. 


“Setelah mengikuti kegiatan ini, mereka akan masuk dalam wadah PPI (Paguyuban Purna Paskibraka Indonesia,” terang Sutomo.

Lebih lanjut, dari 120 siswa yang ikut seleksi sebenarnya ada 40 orang yang masuk menjadi pasukan pengibar bendera ini, namun ada salah satu anggota yang mewakili kota magelang menjadi Paskibraka Provinsi Jateng,  Yakni Rizki Tyar Novitasari siswa SMA 1 Kota Magelang.


“Sebenarnya ada 40 orang, 22 putra dan 18 putri. Namun satu diantara mereka berhasil masuk menjadi pasukan pengibar bendera di provinsi,” ujarnya.


Sementara itu walikota magelang berpesan kepada anggota Paskibraka terpilih agar bisa menjadi perintis dan teladan bagi lingkungan, baik sikap, perilaku semangat dan ucapan.


“Yang paling Penting harus bertanggung jawab, teruslah berkarya demi bangsa, dan jangan justru menjadi kelompok yang jauh dari masyarakat,” tutur Sigit.

Tuesday, 21 May 2013

Liputan Dari Remboeg Sedjarah “Nama-nama Djalan Tempo Doeloe Tahoen 1935 di Kota Magelang”


Peserta Remboeg Sedjarah
Peserta Remboeg Sedjarah sedang berpose sesaat susudah acara berlangsung Minggu 19 Mei 2013 di Gedung Tri Bhakti [foto Soli Saroso] Untuk kesekian kalinya Komunitas KOTA TOEA MAGELANG mengadakan kegiatan Remboeg Sedjarah. Kegiatan ini merupakan kerjasama dengan Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kota Magelang di mana KTM menjadi pengisi salah satu session acara di Gebyar Buku, Arsip dan Budaya. Acara pameran itu sendiri berlangsung dari tanggal 16-20 Mei 2013 di Gedung Tri Bhakti Jalan Sudirman Magelang. Dalam acara Remboeg Sedjarah yang di adakan 19 Mei tersebut mengangkat tema tentang “Nama-nama Djalan Tempo Doeloe Kota Magelang Tahoen 1935″. Sebagaimana di ketahui bahwa Kota Magelang di jaman kolonial merupakan salah satu kota terpenting. Mulai sebagai ibukota Kabupaten tahun 1813, ibukota  Karesidenan tahun 1817 hingga Gemeente  tahun 1906 dan Stadsgemeente tahun 1929. Perkembangan kota yang sedemikian ini menjadikan pemerintah pada waktu itu harus membenahi infrastruktur kota, baik bangunan, jalan, selokan air, taman, pemukiman dan lain-lain. Bahkan di sekitar tahun 1935-an dengan bantuan perancang kenamaan Belanda yaitu Herman Thomas Karsten di lakukan pembenahan dan pembangunan pemukiman besar-besaran . Misalnya pembangunan pemukiman Kwarasan di Cacaban, pemindahan pemakaman Singoranon ke makam kerkhoof di kaki Bukit Tidar dan di bekas pemakaman itu di bangunlah Kawasan pemukiman Gladiool. Pembangunan jalan-jalan baik jalan protokol maupun jalan yang ada di kampung di laksanakan. Sehinga timbulah suatu keharusan untuk memberi penamaan pada jalan-jalan tersebut. Pada peta Stadskaart Magelang tahun 1923 sudah tercantum secara jelas nama-nama jalan tersebut, terutama pada jalan-jalan utama dan sekitarnya.Seperti “grooteweg noord”, “grooteweg zuid”, “bajemanweg”. “tidarweg”, “bottonweg”, Sebagaimana Grooteweg Ponjol yang berdampingan dengan jalur kereta api antara Stasiun Magelang Kota dan Stasiun Magelang passar.
Grooteweg Pontjol tempo doeloe kisaran tahun 1910-an berdampingan dengan rel kereta api
Sejak jaman kolonial Belanda, pembangunan infrastruktur terus dilakukan. Berbagai jalan dibangun, perlebar dan di aspal. Kalau pada waktu itu kondisi jalan masih berupa tanah dan batu yg ditata (watu kricak). Tidak diketahui secara pasti kapan jalan-jalan itu mulai di aspal. Tapi ada sebuah data yang menyebutkan jika pada tahun 1937-1938 terjadi pengaspalan besar-besaran di berbagai jalan raya dan jalan kampung di kota Magelang.
Bahkan pada peta WEGENKAART MAGELANG tahun 1935 lebih komplit lagi menyebutkan nama-nama jalan itu. Misalnya saja IjsfabriekslaanEllo-Weg, dll
Nah penamaan nama2 jalan pada waktu itu lebih bersifat kelokalan [lokal wisdom]. Hal ini tentunya sangat unik. Artinya penamaan jalan biasanya yang berkaitan dengan nama kampung setempat yang dilewati jalan tersebut. Misalnya Bottonweg karena dijalan tsb ada di kampung Botton, atau bisa seperi Djoeritan Zuid karena ada di selatan Kampung Juritan. atau dengan nama Bajemanweg karena berdekatan dengan kampung Bayeman.
Bajemanweg di tahun 1910-1920-an atau Jalan Tentara Pelajar sekarang ini
Atau bisa juga karena berdasarkan tema yaitu nama pulau, misalnya di kawasan seputar RST. Misalnya ada Sumatrastraat, Celebesstraat, Borneostraat, Javastraat dll. Menurut sebuah sumber, nama jalan seperti ini di karenakan pada waktu itu Tentara KNIL yang berasal dari daerah yang sama di tempatkan pada pemukiman yang sama. Misalnya tentara KNIL yang berasal dari Jawa di tempatkan di Javastraat, tentara KNIL dari Sulawesi di tempatkan di Celebesstaat, Tentara KNIL dari Maluku di tempatkan di Molukkenstraat, demikian seterusnya.
Ada lagi penamaan jalan karena ada bangunan khusus di tempat tsb. Misalnya Residentielaan karena disitu ada kantor Karesidenan. Oranjenassau-laan karena disitu ada kawasan van Der Steur yg aslinya dari Belanda (Oranjenassau merupakan simbol Kerajaan Belanda).
Di kampung Bogeman lebih unik lagi. Penamaan nama jalan berdasarkan nama tokoh pewayangan seperti Rama, Anjani, Anoman, Subali dan Sugriwa. Bahkan pada depan jalan tersebut juga di beri tokoh wayang tersebut yang terbuat dari kulit.
Di kawasan tangsi militer lebih unik lagi nama-nama jalannya , sebagai contoh adalahExercitielaan [tahun 1935] = Kesatrian [tahun 1950-an] = Kesatrian [tahun 2000-an]
Western-Kampementslaan = Kesatrian Kulon = Kesatrian Barat
 Noorder-Kampementslaan = Kesatrian Lor = Kesatrian Utara
Zuider-Kampementslaan = Kesatrian Kidul=Kesatrian Selatan
Ooster-Kampemenslaan = Kesatrian Wetan = Kesatrian Timur
Van Heutzlaan West  =  (belum terlacak nama sekarang)
Van Heutzlaan Oost  =          -                =  Jl. Teuku Umar
Djikstraweg =          Kesatrian Lor          = Kesatrian Utara (utara Pondok Sriti)
Kroesenweg =          Kesatrian Kidul      = Kesatrian Selatan (selatan Pondok Sriti)
 Van Dalenweg  =                –                   =  Jl. Untung Suropati
 Michielsenweg  =              –                  =  Jl. Jangrono
 Generaal-Zwat  =  Ngentak Kwayuhan  =  Abimanyu
Sebuah jalan di kawasan tangsi militer dengan pemukiman untuk opsir/officierskampement
Akan tetapi ketika era orde baru muncul maka bergantilah nama-nama jalan tersebut menjadi nama-nama pahlawan nasional. Misalnya saja nama jalan Groote weg Noord menjadi jalan A Yani, Grooteweg Zuid menjadi Jalan Jendral Sudirman, Bajemanweg menjadi Jalan Tentara Pelajar, Bottonweg menjadi Jalan Pahlawan, Patjinanstraat menjadi Jalan Pemuda dll.
Pabrik cerutu Ko Kwat Ie di Pawirokoesoeman yang di bangun pada tahun 1900, sekarang Jalan Tarumanegara
Yang parahnya lagi adalah nama-nama lokal menjadi hilang seperti Djoeritan Zuid, Pawirokoesoeman, Sablongan, Nanggoelan, Kebon, Jenangan dan lain-lain menjadi hilang di telan bumi karena kebijakan yang salah tempat. Akibatnya yang lain adalah lokal wisdom/kearifan lokal menjadi hilang. Nama-nama kampung yang di abadikan lewat nama jalan menjadi tiada berarti lagi.

Thursday, 16 May 2013

Pelajar Magelang Belajar Olah Sampah Jadi Barang Bernilai

MAGELANG, KOMPAS.com - Sampah hingga saat ini masih menjadi persoalan penting dalam lingkungan manusia. Perlu pengetahuan dan keterampilan tertentu untuk mengolah sampah menjadi sesuatu yang berguna.
Seperti dilakukan oleh sejumlah siswa SMA se-Kota Magelang yang mengikuti pelatihan dan belajar membuat kertas daur ulang di gedung Tri Bhakti, Kota Magelang, Kamis (16/5/2013).
Dalam kegiatan yang digagas para aktivis PKK Kelurahan Gelangan, Kota Magelang itu, para pelajar diberi pelatihan dasar pemanfaatan barang-barang yang sudah tidak terpakai atau rusak untuk didaur ulang dengan menggunakan kain perca. Proses itu mulai dari menyediakan bahan-bahan, penjahitan, pewarnaan, dan finishing penambahan pernak-pernik.
E. Toelastri, salah satu anggota PKK Kelurahan Gelangan mengungkapkan, pelatihan kerajinan aksesoris ini merupakan sebuah cara untuk mengampanyekan pengelolaan sampah yang baik dan benar.
"Kami ingin anak-anak sekolah ini cakap dalam melakukan proses daur ulang. Tidak hanya itu saja, tapi juga memberikan kepada mereka tentang budaya mengelola sampah dengan baik," katanya saat mengisi pelatihan bersamaan dengan acara Gebyar Buku Arsip dan Budaya 2013.
Menurut Toelastri, banyak benda bekas di sekitar kita yang barangkai dan hanya akan dibuang. Seperti tas rusak, sepatu rusak, T-shirt rusak, kotak sepatu dan sebagainya. Namun jika beri sentuhan kreatif sedikit saja benda-benda itu bisa mempunyai nilai seni dan ekonomi yang tinggi.
Namun demikian, Toelastri belum menerapkan sisi bisnis kerajinan itu. Pasalnya, sebagian besar para anggota PKK pun masih beranggapan sebuah kerajinan sangat bergantung dengan order atau pesanan.
"Kalau sisi bisnisnya belum. Soalnya ini masih kerajinan. Jadi, kita membuat kalau ada order. Tapi, kadang-kadang juga tidak ada pesanan pun kita tetap membuatnya," katanya.
Riska Fitri Permatasari, salah satu peserta mengaku tertarik dengan kerajinan ini. Apalagi, mendaur ulang sampah sama halnya membudayakan program kebersihan lingkungan.
"Tidak hanya itu, karena perajin biasanya juga mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat. Makanya, saya dan teman-teman tertarik untuk mempelajari kerajinan daur ulang sampah," kata salah satu siswi SMA Negeri 2 Magelang itu.
Editor :
Farid Assifa

Monday, 13 May 2013

Raker Paguyuban Jawa Tengah Se-Jabodetabek

PWMGL (Jakarta). Paguyuban jawa Tengan telah melaksanak Rapat Kerja I di Pendopo Sapta Taruna Gedung Kementrian PU di Jakarta tanggal 4 Mei 2013. Dalam Raker yang dibuka oleh Mentri Pekerjaan Umum tersebut dihadiri oleh perwakilan pengurus Paguyuban Kabupaten/Kota se Jawa Tengah yang ada di wilayah Jabodetabek.
Dalam Raker tersebut akhirnya menghasilkan beberapa keputusan diantaranya: 

1. Mudik Gratis setiap th sudah berjalan tetap dilanjutkan
2. Beasiswa KULIAH di UMPAM - Bagi yang berminat silahkan daftarkan Putra-putrinya http://www.unpam.ac.id/ Jl. Surya Kencana No.1 Pamulang-Tangerang Selatan
3. bantuan Ambulance Jenazah....


Semoga  keputusan tersebut sungguh mampu membantu warga Jawa Tengah yang ada di Jabodetabek

Monday, 22 April 2013

Selikuran Lima Gunung' untuk Perempuan

Magelang, Antara Jateng - Pergelaran "Selikuran Lima Gunung" di panggung terbuka Studio Mendut, Kabupaten Magelang, dikemas oleh para seniman petani yang tergabung dalam Komunitas Lima Gunung untuk penghargaan terhadap perempuan, Minggu (21/4) malam.


Pergelaran rutin setiap bulan sekali oleh Komunitas Lima Gunung Magelang itu bertepatan dengan peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April 2013 lebih mengutamakan berbagai kelompok seniman dan organisasi di luar komunitas tersebut.

Sejumlah pementasan itu, antara lain tarian Topeng Grasak dari Ngipik, Kecamatan Candimulyo (Gunung Merbabu), tarian Tumimpare oleh mahasiswa Akademi Kebidanan Sandikarsa Makassar, Sulawesi Selatan, tarian Bajidor oleh grup Sahabat Lima Gunung Kota Solo, tarian Jaipong oleh mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta, dan tarian "Dolanan" oleh anak-anak putri Sekolah Mendut.

Selain itu, teater dengan lakon Kampung Serdadu oleh grup Teater Kejora SMA Negeri Kota Mungkid, orasi puisi tentang reproduksi perempuan oleh Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Magelang yang juga Kepala Bidang Sumber Daya Manusia Dinas Kesehatan Pemkab Magelang Sri Kuswantie, orasi tentang surat menyurat perempuan oleh Direktur LSM Kampung Halaman Yogyakarta Cicilia.

Pada kesempatan itu, para tokoh komunitas bersama semua yang hadir di Studio Mendut, sekitar 500 meter timur Candi Mendut, melantunkan lagu dalam bahasa Jepang "Hana Wa Saku" (Bunga sedang Berkembang) dengan iringan musik jazz yang dimainkan pemimpin tertinggi Komunitas Lima Gunung Sutanto Mendut.

Selain itu, pembacaan puisi "Pengakuan Kartini" oleh penyair Magelang Wicahyanti Rejeki dan geguritan tentang perempuan oleh Agnesia Maya (SMA Kristen 1 Kota Magelang), serta puisi "Engku Itu" oleh Wiwit Purwaningsih (The Darno's Kabupaten Kendal), ketoprak dengan lakon "Sri Uning" oleh grup Ketoprak Timbul Topo Magelang, dan performa potret perempuan oleh Aning Purwa dan Andre Topo (Sanggar Watujowo Borobudur).

Ketua Komunitas Lima Gunung Supadi Haryanto mengatakan pergelaran tersebut memiliki arti penting antara lain bertepatan dengan Hari Kartini.

"Kami mengemasnya untuk penghormatan terhadap harkat dan martabat perempuan, sebagaimana telah diperjuangkan oleh Ibu Kartini dulu," katanya.

Manajer Produksi "Selikuran Lima Gunung" Riyadi mengatakan agenda pada Minggu (21/4) malam itu sebagai pergelaran keenam komunitas tersebut, sejak November 2012 dengan tempat yang berpindah-pindah di daerah itu. 

Hadir pada kesempatan itu, antara lain budayawan dan juga pengajar Pascasarjana Ilmu Religi Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta G. Budi Subanar dan pengelola Pusat Penyelamatan Satwa Yogyakarta Tarko Sudiarno.



Editor : M Hari Atmoko

Monday, 15 April 2013

Rayakan HUT Kota, Warga Magelang Rebutkan Gethuk

Hari Jadi Kota Magelang yang jatuh setiap 11 April selalu diperingati dengan Grebek Gethuk. Dalam prosesi ini, Gethuk yang merupakan makanan khas Magelang dibentuk menjadi gunungan dan diperebutkan oleh ribuan warga yang hadir memadati alun-alun Kota Magelang.

Grebek Gethuk untuk memperingati Hari Jadi Kota Magelang ke 1107 dilaksanakan pada 14 April 2013. Selain berebutan Gethuk, tradisi kirab kereta kencana diiringi punggawa juga turut memeriahkan acara.Rally Mobil Kuno Pameran Magelang Tempo Doeloe mendahului serangkaian acara selama bulan April 2013. Kemudian dilanjutkan dengan upacara Hari Jadi Kota Magelang pada tanggal 11 April 2013.

Kurang lebih 150kg Gethuk disusun menjadi miniatur Gunung Tidar dan tower air minum yang menjadi ciri khas kota Magelang. Gethuk Gunung Tidar diwarnai dengan warna hijau, sedangkan tower berwarna coklat serupa dengan tower di alun-alun.

Lima buah gunungan Gethuk yang mempunyai ketinggian sekitar 2 meter akan disiapkan. Menariknya, ada satu gunungan getuk yang paling mencolok, tingginya sekitar 2,5 meter.

Disamping untuk memperingati hari jadi Kota Magelang, Grebek Gethuk juga ditujukan untuk tetap melestarikan budaya di Magelang, serta menjadi daya tarik tersendiri untuk menyedot animo masyarakat. Selain itu, tradisi Grebek Gethuk juga mencerminkan ungkapan rasa syukur atas semua hasil yang diperoleh, kemudian didedikasikan untuk kebersamaan dan berbagai antar masyarakat tanpa memandang perbedaan. (Laras)


Sumber Berita

Sunday, 14 April 2013

Warga Magelang di Jakarta Rayakan HUT Kota Magelang

Jakarta, Peringatan HUT Kota Magelang di Jabodetabek diselenggarakan tanggal 14 April 2013 di Museum Satria Mandala Jakarta. Dalam perrayaan tersebut  dihadiri oleh beberapa perkumpulan wrga magelang di Jakarta.Hadir pula dalam perayaan tersebut hadir Ibu Tatik Hendro Priyono,. Dalam kesempatan tersebut Ketua Paguyuban Wong Magelang mengungkapkan bahwa acara tersebut dimaksudkan untuk menjalin silaturahmi antar warga Magelang yang merantau di Jabodetabek. Senada dengan Ketua PWMGL Bapak Prayitno kukenes sebagai salah satu sesepuh dari warga Magelang mengungkapan bahwa kumpul adalah sebagai terapi. Acara ini terselenggara berkat partisipasi warga Magelang yang ada. 

Sunday, 24 February 2013

Kesenian Tradisional Meriahkan Cap Go Meh di Magelang

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Perayaan Cap Go Meh sebagai puncak perayaan tahun baru Imlek 2564 di Kota Magelang, Jateng, dirayakan dengan cara menggabungkan antara kesenian khas China berupa Barongsai dan Naga dengan kesenian tradisional berupa Soreng, Reog Ponorogo, dan lain-lain, Minggu (24/2/2013)

Pembukaan perayaan dilaksanakan di halaman Klenteng Liong Hok Bio Kota Magelang, dimulai dengan ritual pembuka yang dipimpin oleh tokoh Konghuchu. Kemudian dilanjutkan kirab mengelilingi sebagian wilayah Kota Magelang dengan menempuh rute sejauh sekitar empat kilometer.

Ketua Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Klenteng Liong Hok Bio Kota Magelang, Paul Candra Wesi Aji alias AW, mengatakan, perayaan Cap Go Meh di Magelang memang diselenggarakan dengan cara merangkul semua kalangan masyarakat termasuk komunitas kesenian tradisional.

"Kebudayaan Tionghoa sudah melekat ratusan tahun dengan masyarakat di Indonesia. Apalagi sekarang suku Tionghoa sudah diakui oleh pemerintah, jadi saya kira tidak perlu membeda-bedakan antar suku antar agama dan antar kepercayaan. Semua adalah saudara dan semuanya juga ciptaan Tuhan," katanya.

Ratusan warga baik dari etnis Tionghoa maupun masyarakat sekitar Magelang nampak memadati sekitar klenteng tersebut.  AW berharap, dengan perayaan tahun ini, ke depan masyarakat Indonesia bisa bangkit dalam segala hal, termasuk dalam hal penegakan hukum.

Sementara itu, Ketua Ketua Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI), Umar Khusaen,i menambahkan, keikutsertaannya dalam perayaan ini adalah sebagai bentuk solidaritas orang Jawa dengan Tionghoa.  "Karena kebudayaan akan menjadi indah apabila satu sama lain saling melengkapi," katanya.(*)

Perayaan Cap Go Meh Meriah di Magelang

Perayaan yang dilakukan warga keturunan Tionghoa tersebut melibatkan beberapa kesenian tradisional daerah setempat, antara lain, topeng ireng, soreng, yakso buto, jatilan, dan dolalak.

Pembukaan perayaan tersebut dilaksanakan di halaman Kelenteng Liong Hok Bio Kota Magelang, kemudian dilanjutkan kirab melewati beberapa jalan protokol Kota Magelang.

Ketua Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kelenteng Liong Hok Bio Kota Magelang Paul Candra Wesi Aji mengatakan bahwa perayaan Cap Go Meh di Magelang diselenggarakan dengan cara merangkul semua kalangan masyarakat, termasuk komunitas kesenian tradisional daerah.

"Kolaborasi dengan kesenian tradisional ini memang sudah menjadi harapan kami agar warga Tionghoa dan masyarakat Indonesia tetap bisa selalu berdampingan. Saya kira memang sudah tidak ada lagi yang perlu dibeda-bedakan, baik antara agama, ras, suku, maupun kepercayaan," katanya.

Ia mengatakan bahwa peringatan Cap Go Meh merupakan puncak perayaan Imlek setelah serangkaian acara dan kegiatan berlangsung selama 14 hari sebelumnya.

"Cap Go Meh ini puncak acaranya dan merupakan acara akhir. Seperti tradisi umat Islam namanya syawalan. Jadi, setelah beberapa hari diperingati kemudian ada acara penghujungnya," kata Paul.

Ia mengatakan bahwa tahun ini merupakan tahun Ular Air yang diperkirakan banyak keberuntungan dan peningkatan positif berbagai hal. Apalagi, tahun Ular Air ini juga diikuti oleh dua bintang kepintaran yang akan membantu dalam hal karier, keungan kesehatan, dan juga pendidikan.

"Tahun Ular Air menjadi tahun keburuntungan untuk negara dalam bidang perekonomian dan pendidikan menuju yang lebih baik," katanya. [ant]

Sumber: http://www.indonesiarayanews.com/news/nusantara/02-24-2013-18-16/perayaan-cap-go-meh-meriah-di-magelang

Barongsai Semarakkan Kirab Cap Go Meh

MAGELANG (KRjogja.com) - Kirab Barongsai dan Liongsamsi warnai perayaan Cap Go Meh 2564/2013 di Kota Magelang, Minggu (24/2). Kirab yang dimulai sekitar pukul 11.00 tersebut berlangsung semarak dan dipadati masyarakat.

Sebelum ikuti kirab, Barongsai dan Liongsamsi terlebih dahulu ikuti ritual di Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Liong Hok Bio Kota Magelang. Dalam ritual ini diantaranya dilakukan penyematan 'Hu' di bagian kepala Barongsai atau Liongsamsi oleh pendeta TITD Liong Hok Bio. 

Paul Chandra Wesi Aji, Ketua Yayasan Tri Bhakti Kota Magelang, kepada KRJogja.com mengatakan penyematan 'Hu' tersebut dimaksudkan sebagai tolak bala dan agar diperoleh kelancaran dan keamanan selama lakukan kegiatannya.

Usai lakukan ritual di TITD Liong Hok Bio Magelang, barongsay dan Liongsamsi langsung keluar halaman TITD Liong Hok Bio Magelang untuk lakukan kirab susuri beberapa ruas jalan di tengah Kota Magelang. Di sepanjang jalan yang dilalui, ada juga yang susuri depan pertokoan untuk mengambil 'Ang Pao' yang digantung pemilik toko dengan seutas tali di depan tokonya.

Beberapa grup kesenian juga ikuti kirab ini, diantaranya kesenian Topeng Ireng dari Kota Magelang, Soreng dari Pakis Magelang maupun kesenian lainnya. (Tha)

Sumber : Kedaulatan Rakyat

Saturday, 2 February 2013

Pascakebakaran, Pedagang "Pasar Stres" Mulai Berjualan

Magelang, ANTARA Jateng - Para pedagang "Pasar Stres" Kota Magelang, Jawa Tengah, mulai berjualan pascakebakaran yang terjadi pada Kamis (24/1).

Berdasarkan pantauan di Magelang, Selasa dilaporkan, para korban kebakaran tersebut kembali beraktivitas dengan menumpang di los atau kios beberapa pedagang yang ada di blok B dan C pasar tersebut.

"Kami kembali berjualan agar para pembeli, terutama para pelanggan tidak kecewa, karena 112 kios di blok A ludes terbakar," kata Ketua Paguyuban Pedagang "Pasar Stres" Saryanto.

Ia mengatakan, setelah kebakaran pada Kamis lalu, para pedagang yang sejak 2004 silam menempati pasar tersebut terpaksa menganggur.

"Setelah dilakukan penyelidikan dari laboratorium foreksi kepolisian, para pedagang kemudian kerja bakti membersihkan lokasi kebakaran dan baru Senin (28/1) kembali berjualan," katanya.

Ia mengatakan, dari segi pendapatan selama dua hari berjualan pascakebakaran pendapatan turun drastis hampir 60 persen.

¿Sebelum kebakaran, pendapatan minimal Rp150 ribu, kini hanya bisa meraup Rp40 ribu hingga Rp50 ribu. Namun, tetap kami syukuri karena bisa untuk makan," katanya.

Ia berharap Pemkot Magelang segera membangun kembali pasar yang terbakar tersebut.

Sedangkan untuk jangka pendek yang sangat mendesak yakni pembangunan penampungan sementara.

Thursday, 31 January 2013

Api Lahap 'Pasar Stres' Magelang

Api membakar pasar tempat penjualan berbagai barang bekas atau biasa disebut masyarakat sebagai "Pasar Stres" di Kota Magelang, Jawa Tengah, Kamis malam. 

Keterangan yang dikumpulkan menyebutkan kobaran api di pasar di wilayah Kampung Tejosari, Kelurahan Magersari, Kecamatan Magelang Selatan itu, terjadi sekitar pukul 21.30 WIB.

Petugas dengan enam mobil pemadam kebakaran berasal dari Pemerintah Kota Magelang dan Kabupaten Magelang bersama warga segera memadamkan api. Sekitar pukul 23.00 WIB, api berhasil dipadamkan, sedangkan puluhan kios hangus akibat kobaran api tersebut.

Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Pemerintah Kota Magelang, Isa Ashari mengatakan, api terlihat pertama kali dari salah satu kios di bagian belakang pasar.

Lokasi pasar itu relatif dekat dengan tempat penampungan pedagang Pasar Rejowinangun. "Pasar Stres" Kota Magelang pernah terbakar pada 2008. "Asal api tak jauh dari titik api kebakaran pada 2008. Api segera bisa dikuasai," katanya

Penyebab pasti kebakaran, katanya, masih diselidiki petugas.

Berbagai barang yang dijual di pasar tersebut antara lain onderdil sepeda motor, tabung gas, dan kompresor, sedangkan kios-kios terbuat dari papan kayu.

Sumber Republika online

Sunday, 13 January 2013

Bibit Waluyo Kukuhkan Pengurus PJT Jabodetabek

PWMGL(12/1) Sabtu 12 Januari 2013 merupakan hari yang bersejarah bagi Paguyuban Jawa Tengah yang ada di Jabodetabek. karena Gubernur Jawa Tengah H. Bibit Waluyo telah mengukuhkan pengurus PJT periode 2012-2017. Dalam sambutanya Bibit Waluyo berharap PJT mampu menjadi jembatan bagi warga Jateng yang ada di Jabodetabek dengan kampung halamanya. dalam acara tesebut dihadiri pula Jend (Purn) Wiranto, Ibu Karlina Suparjo Roestam dan Fuad Bawazier, serta tidak lupa Direktur Bank Jateng Cabang Jakarta.

H. Bibit Waluyo
Pengurus PJT Dikukuhkan

Tuesday, 8 January 2013

Jalan Panjang Jokowi di Pemilihan Walikota Terbaik sejagat

Jokowi
Akhirnya situs worldmayor.commengumumkan 10 nama wali kota terbaik sejagat, Selasa (8/1), dan secara mengejutkan Joko Widodo keluar menjadi pemenang ketiga.

Prestasi ini tidak main-main. Lelaki akrab dipanggil Jokowi awalnya bersaing ketat dengan 77 kandidat, termasuk Wali Kota Tel Aviv, Israel, Ron Huldai. Setelah menjalani tes kelayakan juga kesaksian dari warga masing-masing kota, nama jokowi pun masuk menjadi finalis.

Sebelum berada di posisi finalis, Jokowi menyisihkan dua nama lain dari Indonesia yakni Wali Kota Surabaya Tri Rismaharani dan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo. Namun keduanya kalah tenar dari sepak terjang Jokowi saat membangun Surakarta. Di tangan dia, kota itu memang berubah lebih baik, terutama kepiawaiannya mengorganisir pedagang kaki lima agar lebih tertib.

Dalam memimpin, Jokowi melakukan pendekatan pribadi dengan mendatangi warga. Banyak orang menudingnya pencitraan tapi langkah ini paling berhasil sebab penduduk jadi lebih mengenal pemimpinnya. Media internasional seperti majalah Time hingga surat kabar New York Post bahkan sering mengulas sepak terjang lelaki berperawakan kecil ini hingga namanya cukup akrab di mata dunia. Pencalonannya menjadi wali kota terbaik sejagat dibanjiri testimoni memuji cara Jokowi mengatur kotanya.

Banyak pihak mengaku kesengsem pada Jokowi. Menurut beberapa komentar masuk di situs itu, lelaki kini menjabat gubernur Ibu Kota Jakarta, Indonesia, merupakan pemimpin generasi baru yang lepas dari dosa masa lalu seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme. 

Meski tak berada di peringkat pertama, nama Indonesia kembali harum dengan terpilihnya Jokowi di peringkat ketiga pemilihan bergengsi ini.

The City Mayors Foundation mengadakan pemilihan ini merupakan organisasi nirlaba yang didirikan pada 2003 untuk mempromosikan, mendorong, dan memfasilitasi pemerintahan lokal terbuka dan kuat. Dimulai pada 2004, organisasi ini meluncurkan penghargaan World Mayor Prize.

The top 10 mayors of World Mayor 2012
Rank
Mayor
City
Country
1
Iñaki AzkunaBilbaoSpain
2
Lisa ScaffidiPerthAustralia
3
Joko WidodoSurakartaIndonesia
4
Régis LabeaumeQuébec CityCanada
5
John F CookEl PasoUSA
6
Park Wan-suChangwon CitySouth Korea
7
Len BrownAucklandNew Zealand
8
Edgardo PamintuanAngeles CityPhilippines
9
Mouhib KhatirZeraldaAlgeria
10
Alfonso Sánchez GarzaMatamorosMexico

 Merdeka.com dan berbagai sumber

Monday, 7 January 2013

Prof Sardjana Pertahankan image Dokter Bintang Lima


Prof Sardjana
Banyak obsesinya yang terpendam untuk memperbesarkan namanya dalam dunia medis, bahkan atas dasar pemgalamannya yang begitu luas sering melontarkan gagasan yang masih sulit ditelaah meskipun masih memenuhi standar Evidence Based Medicine. Dalam perjalanan waktu, masih banyak teka teki ilmu  kedokteran yang belum terjawab,tentang etiologi penyakit, pemetaan gen yang telah mengalami “revolusi besar”,sampai pada tingkatan yang sederhana,kematian ibu yang terjadi hamper setiap menit.
Selalu menjadi yang pertama.
 Perjalanan ini mengiringi karir Prof Dr dr H. Sardjana SpoG (K),SH, tiga kategori the first disematkan pria kelahiran Boyolali ini. Masing-masing, dokter kebidanan dan kandungan yang pertama kali mendapatkan gelar doktor di Malang tahun 2003. dan pada tahun yang sama  ia “ melahirkan ” Fakultas Kedokteran Negeri pertama di Universitas Islam Negeri SyarifHidayatullah Jakarta dibawah rector Prof DR Azyumardi Azra, selain itu tahun 2009 ia dinobatkan sebagai  guru besar kebidanan dan kandungan pertama di Indonesia pada usia dibawah 50 tahun.
Keluarga Prof Sardjana
Sukses menepaki karir seperti sekarang sudah dirasakan oleh Sardjana sejak duduk di bangku sekolah. Masa pelajaran esakta selalu mengantongi angka 10. Ketika duduk di bangku SMA (SMA Negeri 1 Boyolali) anak ketiga dari lima bersaudara ini  malah sudah dapat julukan “ pak dokter “. Tak hanya rekan-rekannya, tapi juga gurunnya, malah gurunya sering memberikan kepercayaan untuk mengajar di kelasnya.
“Mata pelajaran Biologi, Matematika, Fisika, dan Kimia, nilai saya memang selalu sempurna. Rangking 1 kelas itu bagi saya langganan,” kata anak pasangan almarhum KRT Wiryo Witono-BRAY Suciati, saat dijumpai di kantor secretariat Paguyuban Jawa Tengah Jl.Simatupang Jakarta Timur.
Bagi Sardjana, menjadi dokter memang merupakan cita-cita mulianya. Maka, jalur pendidikan yang dipilih usai tamat SMA melanjutkan ke Falkutas Kedokteran UGM sekali pun ia diterima di dua perguruan tinggi negeri (Institut Teknologi Bandung dan Institut Pertanian Bogor) tanpa test kala itu.
“Pemikiran saya, kalau saya ingin melejit maka saya harus berani keluar dari Jogjakarta menjauhi para dosennya untuk mandiri. Usai menyelesaikan pendidikan sepesialis (pendidikan dokter spesialis obstetri dan ginekologi FK UGM) saya mendapatkan penawaran memilih dua Fakultas Kedokteran yang akan berkembang saat itu (April 1998) : Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Solo dan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Saya mantab memilih Malang saja yang agak jauh dari almamater saya,” tambah ayah tiga anak tersebut.
Namun di Malang ia bertahan hanya dua bulan saja,karena Sardjana memilih mengambil pendidikan S-3 di progam pascasarjana di Universitas Airlangga Surabaya. Begitu lulus kesempatan baru kembali menghadang. Ia di minta rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Azumardi Azra, untuk mendirikan FK di Universitas yang berlokasi di Jakarta, pada 2003. Permintaan itu ia terima karena tantangan mengabdikan diri di dunia pendidikan, menjadi obsesi yang terpendam Sardjana untuk memajukan dunia medis.
Menghadapi maraknya persaingan Rumah Sakit akhir-akhir ini, Sardjana tak begitu merisaukan. Selama prinsip dokter five stars di pegangnya, tidak perlu untuk dibuat takut.” Dalam mendidik anak buah, saya tekankan agar jangan hanya berpikir linier ( mikir opo onone ). Kita harus berpikir lateral, memakai daya juang mencapai kemajuan,kalau Fakultas Kedokteran bisa 5 tahun kenapa harus 6 tahun,kalau roda bisa segi lima kenapaharus bundar” tambah dosen terbang beberapa Fakultas Kedokteran di Indonesia,Singapura,Malaysia,Brunai,Canada dan Jepang
Bayar Komitmen Mahal
 Komitmen menjadi dokter harus dibayar mahal oleh Sardjana, kepentingan keluarga mau tidak mau jadi nomer yang  kesekian kalinya,sekalipun kerabat dekat sendiri. Terus melekat benaknya, saat ajal menjemput sang ayah di Malang tahun 2005 lalu, Sardjana harus monomer satukan tugas. Ketika pemberangkatan jenazah almarhum ke tempat kelahirannya Boyolali, Sardjana tidak bisa langsung ikut bersama rombongan keluarga dan mobil jenazah. Ia singgah terlebih dahulu di Rumah Sakit pribadinya untuk melakukan operasi emergency yang tidak mungkin sempat didelegasikan ke dokter spesialis lainnya.
“Saya kejar-kejaran dengan mobil jenazah almarhum bapak. Realistis saja pemikiran saya, ada pasien yang perlu saya selamatkan. Bersyukur, keluarga saya sudah memakluminya. Berat memang, tapi itu sudah konsekuwensi,”ucap pria mahal senyum ini.
Kejadian yang tak pernah di lupakan, yakni 16 mei 2007, ketika ia turun dari pesawat Jakarta-Malang, tiba-tiba mendapatkan kabar adiknya Ir Siti Aminah MsC, meninggal dunia karena kecelakaan dalam perjalanan selepas S2 dari Jepang ke Indonesia. Keinginan pemakaman adiknya sesegera mungkin terpaksa tertunda, masalahnya ia sudah di tunggu tim operasi emergency yang tidak mungkin untuk ditunda dalam satuan menit.
“Saya turun pesawat sekitar pukul 14.12. harusnya saya langsung “balik kucing” ikut pesawat yang sama ke Jakarta. Tapi, saya tidak bisa main-main dengan komitmen, komitmen ini  sama dengan janji. Ya, akhirnya saya selesaikan operasi pasiennya dulu, baru saya bertolak ke Jakarta dengan pesawat yang berbeda ”kenang Sardjana.
Berkorban waktu keluarga demi tugas, lanjut Sardjana, sudah tidak lagi terhitung. Namun, begitu berkat dorongan keluarga, Sardjana tetap merasa nyaman untuk menjalani tugasnya seperti sekarang.” Ke 3 anak saya sangat mengidolakan bapaknya,mereka bilang,saya ini cowok banget, orang jawa bilang saya selaku bapak memenuhi 5 er (pinter/keilmuannya tinggi,bener/nggak macem attitudenya,kober/waktunya seimbang untuk keluarga dan masyarakat,memper/pantes banget jadi orang tua dan pener/tepat dalam setiap mengambil keputusan)”.
Tentang Sardjana
Nama : Prof DR dr H. Sardjana SpOG (K), SH
Lahir  : boyolali, 16 April 1961
Istri    : Arina Nurfinnahari, SH (44 tahun)
Anak:  – Erlangga Husada dr      (24 tahun)
-Yusuf Briliant dr           (22 tahun)
- Gulam Gumilar            (16 tahun)/mahasiswa Fakultas Kedokteran semester III)

Sumber: Solo Raya Online